Senin, 20 April 2015

Malaikat Kecil ComDev UNJ

BY Community Development UNJ No comments

“ Malaikat kecil itu selalu mengajarkan kami untuk tertawa dan tidak mengeluh dengan keadaan dunia,istana kami selalu menjadi tempat mengukir cerita bahagia”



Pendidik Muda di bawah kibaran Merah Putih.

Detak jantung ini..
Sejatinya detak jantung ibu pertiwi
Bergetar seluruh nurani, jika kau tanyakan padaku tentang negeri
Beranjak dewasa ku semakin kenal pada Indonesia dengan segudang ironi 
Kemiskinan, kejahatan dan kebodohan… 
 Bagai lingkaran setan yang membuat negeri ini hampir mati 



Lalu beban ini punya siapa kawan?
Derita mereka yang kesulitan di tanah merdeka urusan siapa kawan?
Anak bangsa yang terjebak rantai besi di negara tetangga tanggung jawab siapa teman?
Pemerintah, pejabat, penguasa yang selalu kita salahkan dengan teriakan 
Masih tak mampu menguraikan…

Kawanku yang tangguh dengan gejolak muda yang menggelora
Taukah engkau saat ini estafet bangsa ada pada kita?
Di bawah kibaran merah putih yang gagah perkasa 
Masih pantaskah kita berdiam diri dan tak peduli pada bangsa ini?

Kawanku generasi muda… 
Mari satukan langkah pada garis “Kontribusi Nyata” 
Ulurkan tangan, relakan raga, lukislah senyum di wajah mereka 
Di bawah kibaran Merah Putih… 
Hadirkanlah sejuta harapan demi negeri yang kita cintai …

Melalui untaian kata ini izinkan kami  bercerita tentang istana yang selalu terisi dengah bocah-bocah ceria. Sekolah cerdas UNJ namanya, project sosial yang digagas oleh mahasiswa UNJ telah menjadi project sosial yang didalamnya penuh cerita. Setiap minggu pengajaran selalu dilakukan di istana kami. Sedih, senang, suka,duka telah berbaur menjadi gradasi warna yang sangat indah. Sekolah cerdas telah menggoreskan tinta cerita dalam hidup kami para relawannya. 
Awalnya banyak diantara kami yang merasa tercengang melihat keadaan bocah-bocah yang menggemaskan ini, bahkan tak jarang kami menyerah dalam mengajar mereka.. kecoa yang dilempar, pilus yang bertebaran, anak-anak yang tak bisa diam menjadi pemandangan yang selalu ada untuk kami pada saat itu. 
Helaan nafas yang panjang seolah menjadi pengingat agar kami sabar dalam menghadapi mereka yang sedang mencari perhatian.mereka adalah bocah-bocah kecil yang kami sayang. Mungkin ada banyak orang yang menganggap mereka adalah anak-anak nakal dan marginal. Tapi tidak bagi kami, mereka adalah anak yang pandai dan luar biasa hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan hidup dilingkungan yang baik tapi apakah mereka yang minta untuk hidup dalam lingkungan seperti ini? bukan… semua adalah takdir yang Allah berikan bagi mereka malaikat-malaikat kecil yang membuat kami selalu belajar makna hidup yang sebenarnya.
 Kerasnya kehidupan telah mereka jalani walau mereka belum dewasa. Mencari uang demi sesuap nasi mereka lakoni walau tubuh mungil mereka dibakar terik matahari yang menyengat dengan panasnya. Kadang kami berpikir kuatkah kami jika diposisi mereka? Bisakah kami tertawa riang diantara duka yang menghimpit dada mereka? Kami rasa belum tentu kami bisa apalagii… ketika kenyataan pahit datang dalam hidup mereka dan merenggut kebahagiaan mereka dan juga kebahagiaan istana kami di pedongkelan beberapa tahun silam.. 



Sekolah Cerdas UNJ : Hidup adalah untuk berjuang  


Selamat Tinggal Istana Kami..

Pagi itu seperti hari yang kelabu untuk kami..
Dengan langkah yang tegap  kaki kami menuju istana lebih pagi 
Buldoser-buldoser telah terjajar rapi 
Tak peduli isak tangis warga mulai pecah meratapi nasib yang menerpa diri 




Senyum kecil dan hangat itu masih ada pada malaikat kecil kami 
Tawa yang masih segar itu menyambut kami dipagi hari 
 sempat kami tersenyum mendengar istana kami takkan dihabisi 
namun ternyata itu hanya mimpi ! mimpi yang memecahkan tangis kami 

selayaknya opera yang dipertontonkan di depan mata 
kami hanya berdiri menganga… 
derai air mata kecewa menemani raga yang mulai lemah 
kaki yang berdiri tegak mulai goyah karena tak kuasa

Masih teringat dalam benak kami kejadian yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Istana kami tak terselamatkan dan kami harus rela kepada keadaan. revitalisasi waduk ria-rio menjadi momok yang kami takutkan akhirnya datang juga. Dalam suasana berkabut duka,  ada hal yang mencabik-cabik perasaan kami saat itu bukan karena istana kami runtuh tapi karena salah satu malaikat kami bertanya “ Kak, tempat belajarnya udah digusur kita belajar dimana?”, Ya Allah pertanyaan itu membuat kami tak bisa berkata-kata bendungan air mata tak mampu lagi tertahan ketika mendengar celoteh yang keluar dari bibir mereka.
hari itu menjadi hari dimana kekuatan mental kami diuji, kami ditunjukan bahwa hidup bukan hanya sekedar dalam buaian bunda. Hidup itu keras! Dan kerasnya hidup akan selalu menyingkirkan orang –orang yang lemah. Tak ada yang dapat kami lakukan dalam keadaan itu hanya doa dan membantu warga semampu kami yang dapat kami lakukan walau hati kami terluka dan tak tertata. Sendu ada dipelupuk mata kami menyaksikan satu persatu bangunan runtuh dengan silih berganti.  Ikhlas……. Mungkin itu kata yang mampu meredakan dentuman amarah yang ada dihati kami, amarah yang tak tau harus disampaikan kepada siapa karena kami sadari tanah pedongkelan adalah tanah sengketa. Sabar…. Itulah yang kata yang harus diterapkan pada dada kami. Kami sempat vakum melakukan pembelajaran sambil menunggu kejelasan tempat mereka akan direlokasi dan kami akan mengikuti untuk tetap berjuang mengabdi pada negeri. 

Sekolah Cerdas UNJ : Selamat Datang Pelangi ! 


“ Pelangi selalu hadir setelah hujan turun dengan gradasi warna yang indah dan memesonakan setiap mata yang memandang. Pelangi selalu dianalogikan sebagai kebahagiaan yang muncul setelah kesedihan bertubi-tubu menerpa, maka atas ujian yang comdev hadapi kami ucapkan selamat datang pelangi ! “
Setelah penggusuran di waduk danau ria-rio dan vakumnya kegiatan pembelajaran di Sekolah Cerdas Comdev UNJ, kini pengajaran itu hadir lagi!. Istana kami terbangun kembali ketika kepastian  warga pedongkelan direlokasi di Rusun Pinus Elok, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Senang bercampur haru ketika kami tahu sambutan warga terhadap kami, hal ini dibuktikan dengan ramainya warga yang hadir pada saat pembukaan kembali istana belajar kami di Rusun Pinus Elok.

Di Rusun tersebut kami memakai tempat yang masih kosong untuk dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi malaikat-malaikat kami. Tak jarang kami menggunakan lapangan juga  sebagai wadah transfer ilmu kami. Berbeda memang, tidak seluas istana kami yang dulu. Namun yang patut kami syukuri adalah masih dipercaya kami untuk berkontribusi pada negeri ini. Pengajaran yang kami lakukan di rusun pinus elok adalah pengajaran yang sama dengan sistem pengajaran di pedongkelan yaitu : ada minggu belajar biasa, minggu kreatif setiap bulannya dan lain sebagainnya dan saat ini pembelajaran di Sekolah cerdas memakai tema setiap minggunya loh…Pembelajaran dengan tema ini pembelajaran akan lebih terarah dan menyenangkan pastinya! Tema yang dipilih untuk pembelajaran adalah tema yang mengedepankan kehidupan sosial seperti gotong royong, kejujuran, percaya diri dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Karena kami ingin malaikat kami tidak hanya cerdas secara intelektual saja namun cerdas secara moral. Saat ini, pengajaran yang kami lakukan bukan hanya di Rusun B saja teman-teman, namun di Rusun A kami juga mendapat kesempatan untuk memperluas istana kami.
“ Dear Allah, …. Thank you for rainbow that you’ve given to Comdev UNJ. we already understood how you put us in the worse condition because you will show that worse condition could make us mature, strong, and always do the best with big effort. we never imagined that everything more beautiful than before. Allah please guide our steps to make Indonesian have brighter children and no one can underestimate our student and called them as Marginal Kids cause we believed every  children is a star and they have “ Right “ to accept the best education and wonderful life. Alhamdulillah………. “
































0 komentar:

Posting Komentar