Rabu, 20 Januari 2016

Community Development UNJ goes to UB

BY Community Development UNJ No comments


 

 “Demi Masa. Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran. Dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.“ (QS. Al-Ashr 1-3)


                                                                      

20 November 2015, Kami diundang oleh Universitas Brawijaya Malang dalam acara “Gubuk Brawijaya” yang saat itu sedang mengadakan kegiatan dengan tema Pendidikan Indonesia: “Sudut Pandang Mata, Menangkap Realita, 1001 Cita Kembangkan Cita Tunas Bangsa”. Perjalanan Kami ke kota Malang kala itu membawa berbagai harapan diantaranya untuk bertukar pengalaman, menambah pengetahuan, dan bersilaturahim dengan berbagai komunitas mengajar se-Indonesia. Dengan bermodal niat dan semangat, kami selaku perwakilan Community Development UNJ ikut berpartisipasi dengan penuh antusias. Kami yakin bahwa diluar sana masih banyak rekan-rekan yang mempunyai satu visi terhadap pendidikan di Indonesia.
                Perjalanan yang Kami tempuh cukup panjang, yaitu dari Jakarta ke Surabaya. Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Surabaya Gubeng.  Setelah di Stasiun Surabaya, Kami pun harus menunggu kereta lokal ke arah Blitar yang melewati rute Stasiun Malang. Setibanya disana, Kami dijemput dengan beberapa perwakilan mahasiswa Brawijaya. Kami juga disambut dengan hangat dan sangat bersahabat. Acara tersebut dimulai dengan perkenalan komunitas mengajar yang saat itu hadir, diantaranya adalah UNBRAW, UNDIP, UNEJ, UNM, UNNES, Indonesia Mengajar, Save Street Child, Sokola Rimba, dan lainnya. Acara berikutnya dilanjutkan dengan diskusi kecil tentang beberapa masalah pendidikan di Indonesia, dan Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Permasalahan yang dimunculkan saat itu adalah kasus Bullying, Troublemaker, dan Lingkungan yang kurang mendukung pendidikan. Diskusi tersebut bertujuan untuk menghasilkan saran-saran terbaik terhadap masalah yang sedang ada dari berbagai perspektif individu.
                Acara selanjutnya adalah penyampaian materi tentang peran dan fungsi mahasiswa dari Kak Abdul Jabbar Jawwadurrahman, selaku mahasiswa berprestasi dari UNBRAW. Disana kami mendapat ilmu baru tentang esensi diri menjadi mahasiswa, bagaimana menjadi seseorang yang bermanfaat  ketika menjalankan fungsinya sebagai mahasiswa yaitu Agent of Change, Iron Stock dan Social Control. Kemudian, dilanjutkan dengan materi dari Dosen UNBRAW yang bertemakan Revolusi Mental. Revolusi Mental disini juga menyinggung beberapa teori belajar, dimana hakikat belajar dan pembelajaran yang sesungguhnya adalah yang bersifat memanusiakan manusia. Harusnya tidak ada paksaan dan tekanan dalam proses pembelajaran di sekolah atau tempat pendidikan lainnya. Anak-anak mempunyai kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan teori Howard Gardner  yang membahas tentang kecerdasan jamak.
Setalah itu, penyampaian materi dari Indonesia Mengajar dan Sokola Rimba. Indonesia mengajar merupakan program yang diinisiasi oleh pak Anies Baswedan dalam rangka meratakan pendidikan di pelosok Indonesia, menjangkau semua yang tak terjangkau dan menjadikannya terdepan. Lalu, pembicara berikutnya berasal dari pendiri sokola rimba. Kisah nyata perjuangan dan pengabdian untuk anak suku pedalaman dalam rangka mengenyam pendidikan. Pembicara tersebut pernah mengatakan bahwa “Kita harus hadir dengan rendah hati. Jangan sampai kita merasa lebih tahu, lebih paham, dan lebih mengerti dibandingkan dengan orang pedalaman.” Terkadang kita sebagai masyarakat luar hanya menganggap sebelah mata dan memandang dari satu sisi. Padahal ketika kita berada di posisi lebih dekat, kelak kita akan mengerti. Mengerti tentang suatu hal  dan sebuah alasan yang tak perlu dijelaskan. Hal tersebut terjadi karena kondisi, budaya, kebiasaan, kehidupan, dan kebutuhan kita pun berbeda-beda. Hmm… tidak terasa acara pun selesai dan ditutup dengan agenda foto bersama seluruh komunitas mengajar yang berisikan banyak pengajar muda.
                Perjalanan singkat namun sangat bermanfaat ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Satu hal yang perlu selalu dipahami adalah niat dan ikhlas dalam sebuah pengabdian. Niat dan ikhlas tidak dapat dipisahkan, salah satu esensinya adalah tentang sebuah konsep tentang “memberi tanpa mengharap kembali.” Memberi dan terus memberi, karena yakin bahwa Tuhan lah Sang Maha Pemberi balasan sejati. Berbagi senyuman dan keceriaan pun sudah amat cukup, apalagi untuk seorang pengajar muda yang sering berinteraksi dengan anak-anak. Dengan berbagai ilmu yang ada, kita dapat memahami banyak hal baru. Ilmu juga tidak bisa kita dapatkan dengan bermalas-malasan atau berdiam diri. Banyak kegiatan positif yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kualitas diri, contohnya berjuang bersama dengan orang-orang yang mempunyai satu visi. Bersama dengan orang-orang yang mempunyai satu visi ibarat amunisi terbaik dalam sebuah pertempuran dan perjuangan hidup. Bertebaranlah di Bumi-Nya, lalu setialah dengan segala hal baik yang kita lakukan. Kelak buah hasil itu akan kita petik pada saatnya nanti. Tetaplah mengabdi dan selalu rendah hati! J




(Dalam foto: Alvianita, Eka Kristanto, Siti Mulhamah, Wahyudi)


#SalamPengajarMuda
#KontribusiNyataMembangunBangsa
#HidupPendidikanIndonesia
                                                                              



0 komentar:

Posting Komentar